𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah kota yang tidak tercatat di peta mana pun, berdiri menara tinggi yang memancarkan cahaya ke langit malam. Kota itu dikenal sebagai Atherion, tempat di mana waktu tidak berjalan seperti dunia biasa. Orang-orang yang masuk ke dalamnya sering kali tidak pernah kembali, dan jika pun kembali, mereka tidak lagi sama.
Arka tidak pernah percaya pada cerita itu.
Baginya, semua kisah tentang kota tanpa waktu hanyalah dongeng yang dibuat untuk menakut-nakuti anak kecil. Namun malam itu, ketika ia menemukan sebuah buku tua di loteng rumahnya, semuanya berubah.
Buku itu tidak memiliki judul. Sampulnya berwarna hitam pekat, seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Saat Arka membukanya, halaman pertama hanya berisi satu kalimat:
"Jika kau membaca ini, maka kau telah dipilih."
Jantung Arka berdegup lebih cepat. Ia mencoba menutup buku itu, tetapi tangannya seperti tertahan. Angin dingin tiba-tiba berhembus di dalam ruangan yang seharusnya tertutup rapat.
Lalu, sebuah cahaya muncul di depan matanya.
Dalam sekejap, lantai kayu rumahnya menghilang. Ia terjatuh ke dalam kehampaan, seolah tersedot ke dunia lain. Ketika ia membuka mata, Arka sudah berdiri di sebuah jalan berbatu dengan lampu-lampu melayang di udara.
Di depannya, berdiri sebuah gerbang raksasa yang bersinar.
“Atherion...” bisiknya tanpa sadar.
Seorang gadis berambut perak mendekatinya. Matanya bersinar lembut seperti bulan.
“Kau akhirnya datang,” katanya.
Arka mundur satu langkah. “Siapa kamu?”
“Namaku Lyra. Penjaga Gerbang Cahaya.”
Arka mencoba memahami situasi. “Ini mimpi?”
Lyra menggeleng. “Ini lebih nyata dari dunia asalmu.”
Di belakang Lyra, gerbang besar itu perlahan terbuka, memperlihatkan cahaya putih yang begitu terang. Dari dalamnya terdengar suara-suara—bisikan, tangisan, dan tawa yang bercampur menjadi satu.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Apa itu?” tanya Arka.
“Itu adalah waktu,” jawab Lyra. “Semua waktu yang hilang, semua masa yang tidak pernah terjadi.”
Arka merasa merinding. “Kenapa aku di sini?”
Lyra menatapnya dengan serius. “Karena kau adalah Kunci.”
Sejak saat itu, perjalanan Arka dimulai.
Ia dibawa melewati kota Atherion, melihat bangunan-bangunan yang melayang, sungai yang mengalir ke atas, dan manusia-manusia yang tidak menua. Di setiap sudut kota, waktu tampak terdistorsi.
Namun di balik keindahan itu, ada sesuatu yang salah.
“Waktu di sini rusak,” kata Lyra suatu malam.
Mereka berdiri di puncak menara yang sama dengan yang Arka lihat dalam visinya. Dari sana, seluruh kota terlihat seperti mimpi yang retak.
“Ada yang mencoba menguasai waktu,” lanjut Lyra. “Jika itu terjadi, dunia luar akan hancur.”
Arka menelan ludah. “Dan aku harus menghentikannya?”
Lyra mengangguk.
Mereka menuju inti kota, tempat di mana sumber cahaya berada. Di sana, berdiri seorang pria berjubah hitam dengan mata merah menyala.
“Selamat datang, Kunci,” katanya dengan suara dalam.
Arka merasa tubuhnya bergetar. “Siapa kamu?”
“Aku adalah penjaga lama yang dilupakan,” jawab pria itu. “Dan aku akan menggunakanmu untuk membuka seluruh waktu.”
Pertarungan pun tak terelakkan.
Cahaya dan bayangan bertabrakan. Arka merasakan energi aneh mengalir dalam dirinya. Setiap langkahnya seolah mengubah realitas. Ia melihat potongan-potongan masa lalu dan masa depan berkelebat di sekitarnya.
Lyra mencoba menahan pria itu, tetapi kekuatannya tidak cukup.
“Arka! Gunakan kekuatanmu!” teriaknya.
Arka menutup mata. Ia mengingat buku itu, kalimat pertama yang ia baca.
"Kau telah dipilih."
Dengan seluruh keberaniannya, ia mengangkat tangan.
Cahaya besar meledak dari tubuhnya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Gerbang Cahaya bergetar hebat. Energi yang tak terkendali mulai menyedot semua yang ada di sekitarnya. Pria berjubah hitam itu berteriak saat tubuhnya terurai menjadi partikel cahaya.
Dalam sekejap, semuanya hening.
Arka jatuh berlutut, napasnya terengah-engah.
Lyra mendekatinya. “Kau berhasil.”
Namun wajahnya tampak sedih.
“Ada apa?” tanya Arka.
Lyra tersenyum tipis. “Setiap Kunci harus membayar harga.”
Sebelum Arka bisa bertanya lebih jauh, tubuhnya mulai memudar.
“Tidak...” bisiknya.
“Kau akan kembali ke duniamu,” kata Lyra. “Tapi kau akan melupakan semuanya.”
Arka mencoba mengingat wajah Lyra, kota itu, dan semua yang telah ia alami.
Namun perlahan, semuanya menghilang.
Ketika ia membuka mata, Arka sudah kembali di loteng rumahnya.
Buku hitam itu tergeletak di lantai, kini kosong tanpa tulisan.
Ia mengerutkan kening. “Aku... tadi ngapain ya?”
Di luar jendela, bulan bersinar terang.
Dan untuk sesaat, ia merasa seperti pernah melihat dunia lain.
Sebuah kota tanpa waktu.
--------------
𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: LAMPU4D
𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗
x
