𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Malam itu hujan turun tanpa suara. Kota masih ramai, lampu-lampu gedung menyala seperti biasa, tetapi jam di alun-alun berhenti tepat pukul 23.59. Tak ada yang menyadarinya—kecuali seorang pemuda bernama Rafa.
Rafa bekerja sebagai penjaga peron di Stasiun Kota Lama, stasiun tua yang hampir tak pernah lagi dilewati kereta. Tugasnya sederhana: memastikan rel tetap aman dan mengunci gerbang saat tengah malam tiba.
Namun malam itu berbeda.
Saat jarum jam berhenti, terdengar suara peluit panjang yang menggetarkan udara. Rel bergetar pelan. Dari kegelapan terowongan, muncul kereta hitam berkilau dengan jendela-jendela bercahaya biru pucat.
Di bagian depan tertulis:
Tujuan: Stasiun Nol
Rafa membeku. Tak ada jadwal kereta pada jam itu. Pintu kereta terbuka sendiri, dan seorang kondektur berpakaian abu-abu turun dengan wajah tanpa ekspresi.
“Penumpang terakhir sudah ditunggu,” katanya pelan.
“Aku tidak membeli tiket,” jawab Rafa gugup.
“Kau tidak perlu membeli. Kau sudah dipilih.”
Sebelum sempat menolak, dunia di sekitarnya sunyi total. Hujan berhenti di udara, seperti foto yang dibekukan. Rafa sadar—waktu memang benar-benar berhenti.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Tanpa pilihan lain, ia melangkah masuk ke kereta.
Di dalam, suasana terasa aneh. Penumpang lain duduk diam, menatap lurus ke depan. Wajah mereka samar, seperti tertutup kabut tipis. Kereta melaju tanpa suara, menembus terowongan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, jendela kereta menampilkan pemandangan yang mustahil. Kota yang hancur. Gedung-gedung retak. Langit berwarna kelabu pekat. Api kecil menyala di beberapa sudut.
“Apa ini?” bisik Rafa.
“Ini kemungkinan masa depan,” jawab kondektur yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. “Stasiun Nol adalah titik sebelum semuanya dimulai atau diakhiri.”
Kereta berhenti.
Pintu terbuka menuju sebuah peron luas yang melayang di ruang kosong. Di tengahnya berdiri jam raksasa tanpa angka. Jarumnya patah.
“Inilah pusat waktu kota,” lanjut kondektur. “Seseorang telah merusaknya. Jika jarum tidak kembali bergerak, dunia akan runtuh dalam tujuh hari.”
Rafa menatap jam itu. “Kenapa aku?”
“Kau satu-satunya yang menyadari waktu berhenti.”
Tiba-tiba lantai bergetar. Dari bayangan muncul sosok tinggi berselimut asap hitam. Matanya merah menyala.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
“Aku Penghapus,” suaranya dalam dan berlapis gema. “Aku menghapus waktu yang tak lagi berguna.”
Sosok itu melangkah mendekat, dan setiap jejaknya membuat bagian peron menghilang menjadi debu cahaya.
Rafa berlari ke arah jam raksasa. Ia melihat celah kecil di poros jarum, seperti tempat untuk sesuatu dimasukkan. Di saku jaketnya, ia merasakan benda dingin—kunci rel kecil yang selalu ia bawa sebagai simbol pekerjaannya.
Tanpa ragu, ia memasukkan kunci itu ke poros jam.
Jarum bergerak satu sentimeter.
Penghapus meraung dan menyerang, tetapi Rafa memutar kunci itu sekuat tenaga. Jam mulai berdentang keras. Satu… dua… tiga…
Setiap dentang membuat sosok bayangan retak dan memudar.
“Waktu bukan untuk dihapus!” teriak Rafa. “Ia harus dijalani!”
Dentang ketujuh menggema seperti petir. Cahaya menyapu seluruh peron. Penghapus hancur menjadi serpihan gelap yang larut dalam udara.
Tiba-tiba Rafa terjatuh.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia membuka mata di peron Stasiun Kota Lama. Hujan kembali turun normal. Jam di alun-alun bergerak dari 23.59 ke 00.00.
Tak ada kereta. Tak ada kondektur.
Namun di tangannya masih tergenggam kunci rel yang kini bersinar samar.
Keesokan harinya, berita di kota membicarakan satu hal aneh: sistem jam digital kota sempat berhenti satu detik tepat tengah malam, lalu kembali normal.
Hanya satu detik.
Tidak ada yang tahu bahwa dalam satu detik itu, dunia hampir terhapus.
Rafa berdiri di peron, memandang rel yang kini terasa berbeda. Ia tahu, mungkin suatu malam kereta itu akan datang lagi.
Dan jika itu terjadi, ia akan siap.
Karena ia telah naik Kereta Terakhir menuju Stasiun Nol—dan kembali membawa waktu bersamanya.
--------
