𝑷𝒖𝒍𝒂𝒖 𝑱𝒂𝒎 𝑷𝒂𝒔𝒊𝒓 𝑻𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Langit di atas Samudra Selatan berubah warna menjadi ungu gelap ketika kapal ekspedisi Aurora memotong ombak menuju titik kosong di peta.

Di dek kapal berdiri seorang gadis bernama Nayra, navigator termuda dalam timnya. Usianya baru dua puluh satu, tetapi matanya menyimpan tekad yang bahkan tak dimiliki kapten kapal.

Mereka mencari sesuatu yang dianggap mitos oleh banyak orang—Pulau Jam Pasir Terakhir. 

Konon, di tengah pulau itu berdiri menara raksasa berbentuk jam pasir yang mengendalikan aliran waktu di dunia. Jika jam pasir itu retak, waktu bisa melambat, berhenti, bahkan berulang.

Tiga hari sebelumnya, langit di berbagai belahan dunia tiba-tiba membeku selama tujuh detik. Tujuh detik yang terasa seperti selamanya. 

Burung berhenti mengepak, ombak berhenti di udara, manusia tak bisa bergerak. Lalu semuanya kembali normal, seolah tak pernah terjadi.

Nayra tahu itu bukan kebetulan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ketika kabut tebal terbuka, mereka melihatnya. Sebuah pulau berbatu muncul dari laut seperti rahasia yang dipaksa naik ke permukaan. 

Di tengahnya, menjulang menara jam pasir setinggi gunung kecil. Cahaya emas mengalir di dalam kaca raksasanya, tetapi alirannya tersendat-sendat.

Begitu kapal merapat, tanah bergetar halus. Nayra melangkah lebih dulu, diikuti dua anggota tim lainnya, Arven si teknisi dan Kapten Rho.

Udara di pulau itu terasa berat, seolah waktu berjalan lebih lambat. Pasir di pantai bergerak naik ke udara, lalu turun kembali, seperti sedang mengulang momen yang sama.

“Mata jamnya tidak stabil,” gumam Arven sambil memeriksa alatnya yang berkedip liar.

Tiba-tiba bayangan besar melintas di atas mereka. Dari balik menara muncul makhluk tinggi berlapis logam hitam dengan mata bercahaya biru dingin.

“Aku adalah Penjaga Waktu,” suaranya bergema seperti dentang lonceng jauh. “Manusia tidak diizinkan mengganggu keseimbangan.”

Kapten Rho melangkah maju. “Kami tidak ingin menguasai waktu. Kami ingin mencegah kehancurannya.”

Penjaga itu mengangkat tangannya. Dalam sekejap, Nayra merasakan dunia terbelah. Ia melihat dirinya sendiri berdiri beberapa meter di depan, seperti cermin hidup yang bergerak sedikit lebih lambat. Waktu terpecah menjadi lapisan-lapisan tipis.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Kalian telah merusak keseimbangan,” lanjut Penjaga. “Keserakahan manusia membuat jam pasir ini retak.”

Nayra menatap jam pasir raksasa itu. Di bagian tengahnya terlihat garis retakan halus yang memancarkan cahaya tak stabil. Jika retakan itu melebar, mungkin dunia tak akan lagi berjalan seperti seharusnya.

“Apa yang harus dilakukan?” teriak Nayra.

“Korbankan satu kemungkinan masa depan,” jawab Penjaga.

Mereka tak mengerti, sampai tiba-tiba Nayra melihat kilasan bayangan dirinya—satu versi menjadi penjelajah terkenal, satu lagi kembali ke kota kecilnya dan hidup sederhana, satu lagi tak pernah meninggalkan rumah.

Waktu menawarkan pilihan.

Untuk menstabilkan jam pasir, satu jalur masa depan harus dihapus.

Nayra menutup mata. Ia selalu bermimpi menjelajah dunia, menemukan tempat-tempat tersembunyi. Namun jika ambisi itu menjadi sebab retaknya keseimbangan, mungkin ia harus memilih yang lain.

“Aku lepaskan mimpiku menjadi penjelajah terbesar,” bisiknya.

Cahaya di jam pasir bergetar keras. Salah satu bayangan dirinya pecah menjadi serpihan cahaya yang terserap ke dalam retakan kaca. Retakan itu mulai menutup perlahan. Aliran pasir emas kembali stabil, mengalir dengan tenang.

Penjaga Waktu menundukkan kepala. “Pengorbanan diterima.”

Pulau mulai bergetar lebih kuat. “Pergilah,” katanya. “Pulau ini akan kembali tersembunyi.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Nayra dan timnya berlari menuju kapal. Saat mereka menjauh, pulau itu memudar seperti bayangan yang ditelan kabut. Dalam hitungan detik, hanya laut kosong yang tersisa.

Di atas kapal, Nayra berdiri diam menatap cakrawala. Ia merasa berbeda. Ia tahu ada versi dirinya yang tak akan pernah ada lagi. Namun dunia terasa utuh kembali. Detak waktu berjalan normal.

Beberapa minggu kemudian, dunia tidak lagi mengalami pembekuan aneh. Jam berdetak seperti biasa. Orang-orang menjalani hidup tanpa tahu betapa dekatnya mereka dengan kekacauan.

Nayra kembali ke kota asalnya, bukan sebagai penjelajah terkenal, tetapi sebagai penjaga rahasia yang tak tertulis dalam sejarah. Ia tak lagi mengejar ketenaran, tetapi setiap kali ia mendengar detik jam berdetak, ia tersenyum.

Karena ia tahu, waktu berjalan dengan tenang bukan karena kebetulan.

Melainkan karena suatu hari, di pulau yang tak pernah ada di peta, ia memilih mengorbankan satu kemungkinan demi menyelamatkan semuanya.

 --------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama