𝑩𝒊𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑴𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝑷𝒂𝒅𝒂𝒎

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di dunia Aetherion, setiap manusia lahir dengan satu bintang kecil yang bersinar di langit. Bintang itu terhubung dengan jiwa mereka. Jika seseorang bahagia, bintangnya bersinar terang. Jika ia kehilangan harapan, cahayanya meredup.

Dan jika seseorang mati, bintangnya jatuh.

Lyren adalah satu-satunya penjaga Menara Astralis—menara tinggi yang berdiri di antara langit dan bumi. Tugasnya sederhana namun berat: menjaga agar tidak ada bintang yang padam sebelum waktunya.

Ia hidup sendirian, hanya ditemani langit penuh cahaya.

Namun suatu malam, ia melihat sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Satu bintang berwarna perak berdenyut tidak stabil.

Bintang itu milik seorang gadis bernama Elmyra—anak petani dari desa kecil di kaki gunung. Lyren dapat melihat kehidupan manusia melalui cahaya bintang mereka, dan ia melihat bahwa Elmyra sedang sakit keras.

Namun bukan penyakit yang membuat bintang itu goyah.

Melainkan kesedihan.

Elmyra telah kehilangan seluruh keluarganya akibat wabah. Ia sendirian, tanpa harapan, tanpa alasan untuk bertahan.

Jika bintang itu padam karena keputusasaan, keseimbangan langit akan terganggu. Bintang yang padam bukan karena kematian alami akan menciptakan celah gelap di langit Aetherion.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Lyren menghadapi pilihan terlarang.

Penjaga dilarang turun ke dunia manusia.

Namun ia melakukannya.

Ia turun dalam wujud manusia, menyamar sebagai pengelana. Ia menemukan Elmyra duduk di tepi sungai, memandangi air yang mengalir tanpa tujuan.

Lyren berbicara padanya. Tentang dunia yang lebih luas. Tentang kemungkinan. Tentang cahaya yang belum ia lihat.

Hari demi hari, ia menemani gadis itu.

Perlahan, bintang perak di langit kembali stabil.

Elmyra mulai tersenyum lagi.

Namun setiap kali Lyren berada jauh dari menara, langit mulai goyah. Bintang-bintang lain kehilangan penjagaan. Retakan tipis muncul di cakrawala malam.

Penjaga Agung muncul dalam wujud cahaya raksasa.

“Engkau melanggar sumpah,” suaranya bergema seperti ribuan lonceng.

Lyren menatap langit.

Ia tahu akibatnya.

Jika ia tetap tinggal di dunia manusia, ia akan kehilangan keabadiannya. Jika ia kembali ke menara, Elmyra akan kembali sendirian.

Suatu malam, Elmyra berdiri di padang rumput, menatap bintang peraknya yang kini bersinar indah.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Aku tidak tahu kenapa aku ingin hidup lagi,” katanya pelan. “Tapi sekarang… aku ingin melihat musim semi berikutnya.”

Lyren tersenyum.

Itu sudah cukup.

Keesokan harinya, ia menghilang.

Elmyra mencarinya, namun yang tersisa hanyalah liontin kecil berbentuk bintang.

Di langit, satu bintang perlahan berubah warna—dari emas menjadi perak lembut.

Lyren kembali ke menara.

Namun hukum langit tidak memaafkan.

Karena ia telah mengikat hatinya pada manusia, keabadiannya retak. Tubuhnya mulai menjadi cahaya.

Penjaga Agung memberinya satu pilihan terakhir: menjadi manusia dan mati seperti yang lain, atau tetap menjadi penjaga namun kehilangan seluruh ingatan tentang gadis itu.

Lyren memilih yang ketiga.

Ia memindahkan sisa cahayanya ke bintang Elmyra.

Malam itu, satu bintang besar jatuh dari langit, menyatu dengan bintang perak kecil yang kini bersinar paling terang.

Elmyra merasakan kehangatan aneh di dadanya.

Ia tidak pernah tahu bahwa seseorang telah memilih padam agar ia bisa tetap bersinar.

Bertahun-tahun kemudian, Elmyra menjadi tabib yang menyelamatkan banyak nyawa.

Setiap malam, ia selalu memandang satu bintang yang paling terang di langit.

Tanpa sadar, ia berbisik terima kasih.

Dan di Menara Astralis, satu kursi penjaga kosong selamanya.

Karena ada cahaya yang memilih padam… agar cahaya lain tetap hidup. 

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama