𝑻𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒖𝒓𝒖𝒏 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝑫𝒂𝒍𝒂𝒎

 

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah rumah kontrakan tua di tengah kota, ada satu hal yang selalu diabaikan oleh para penyewa sebelumnya: pintu kecil di bawah tangga dapur.

Pintu itu tidak pernah disebut dalam iklan. Tidak pernah dikunci. Hanya ada di sana, setinggi lutut, dengan gagang besi berkarat dan lubang kunci tanpa anak kunci.

Setiap orang yang pernah tinggal di rumah itu hanya bertahan paling lama tiga bulan.

Alasannya selalu sama.

Tidak nyaman.

Nadia pindah ke rumah itu karena harganya murah dan lokasinya strategis. Ia tinggal sendirian. Ia bukan tipe yang mudah takut. Ia juga tidak terlalu peduli pada pintu kecil di bawah tangga itu.

Sampai malam ketiga.

Ia terbangun karena suara langkah kaki.

Bukan dari luar rumah.

Dari bawah lantai dapur.

Langkah itu berat dan pelan. Seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki di atas tanah lembap.

Nadia duduk di tempat tidur, menahan napas. Rumahnya sunyi. Jam menunjukkan pukul 02.23.

Langkah itu berhenti tepat di bawah dapur.

Lalu terdengar suara ketukan.

Tiga kali.

Pelan.

Keesokan paginya, ia memeriksa dapur. Semuanya tampak normal. Pintu kecil di bawah tangga itu tetap tertutup.

Namun kini ada goresan baru di sekitarnya.

Seperti seseorang mencoba membuka dari dalam.

Nadia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin itu tikus besar atau pipa lama yang bergerak.

Malam berikutnya, suara itu kembali.

Langkah. Pelan. Mendekat.

Ketukan.

Kali ini lebih keras.

Kayu pintu kecil itu bergetar sedikit.

Nadia berdiri di depan pintu itu dengan senter di tangan. Dadanya berdebar. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang besinya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Dingin.

Sangat dingin.

Ia membuka pintu itu perlahan.

Di baliknya bukan ruang sempit seperti gudang kecil.

Melainkan tangga batu yang turun ke bawah.

Tangga itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Padahal rumah ini hanya satu lantai.

Tangga itu basah. Dindingnya lembap. Bau tanah dan sesuatu yang busuk menguar dari dalamnya.

Nadia menyorotkan senter ke bawah.

Tangga itu tidak terlihat ujungnya.

Ia menutup pintu dengan cepat.

Namun malam itu ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus kembali pada tangga itu. Rasanya seperti ada sesuatu di bawah sana yang menunggu.

Malam kelima, suara itu berubah.

Bukan lagi langkah.

Melainkan suara seseorang menaiki tangga.

Perlahan.

Anak tangga demi anak tangga.

Kayu dapur berderit seolah ada beban berat di bawahnya.

Nadia berdiri membeku.

Suara itu berhenti tepat di balik pintu kecil.

Lalu terdengar suara napas.

Tepat di celah pintu.

Pagi harinya, Nadia mendapati pintu kecil itu sedikit terbuka.

Ia yakin semalam menutupnya rapat.

Dari celah itu, mengalir lumpur tipis ke lantai dapur.

Membentuk jejak kaki.

Jejak itu bukan menuju ke dalam tangga.

Melainkan keluar.

Ke arah ruang tamu.

Ke arah kamar tidur.

Nadia mengikuti jejak itu dengan tubuh gemetar.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Jejak berhenti tepat di sisi tempat tidurnya.

Dan di atas bantalnya, ada bekas basah berbentuk kepala seseorang yang semalam berbaring di sana.

Sejak saat itu, Nadia mulai kehilangan waktu.

Ia sering menemukan lumpur di telapak kakinya saat bangun pagi.

Pakainya berbau tanah.

Kukunya penuh pasir.

Dan yang paling menakutkan, ia mulai bermimpi berjalan menuruni tangga itu.

Dalam mimpinya, tangga itu sangat panjang. Dindingnya semakin menyempit. Udara semakin tipis. Di bawah sana, ada ruangan besar seperti gua, penuh dengan orang-orang berdiri diam membelakanginya.

Semua tubuh mereka berlumur tanah.

Semua kepala mereka menunduk.

Saat Nadia melangkah lebih dekat dalam mimpi itu, semua kepala itu perlahan terangkat bersamaan.

Wajah mereka tidak memiliki mata.

Hanya lubang gelap yang dalam.

Suatu malam, ia terbangun dan mendapati dirinya berdiri di dapur.

Pintu kecil itu sudah terbuka lebar.

Tangga batu itu menunggu.

Dan kali ini, tidak ada suara langkah dari bawah.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Yang ada adalah keheningan.

Seolah sesuatu sudah selesai naik.

Nadia merasa ada sesuatu di belakangnya.

Ia tidak berani menoleh.

Namun bayangannya di lantai menunjukkan dua sosok.

Satu adalah dirinya.

Yang lain berdiri tepat di belakangnya, tinggi, kurus, dengan tangan panjang menyentuh bahunya.

Lampu dapur mati.

Keesokan paginya, rumah itu kembali sunyi.

Tetangga melihat pintu depan terbuka sedikit.

Tidak ada tanda perlawanan.

Tidak ada barang hilang.

Pintu kecil di bawah tangga tertutup rapat.

Jika seseorang membukanya sekarang, mereka akan menemukan tangga itu sudah tidak ada.

Hanya dinding kayu biasa.

Namun setiap malam pukul 02.23, jika rumah itu ditempati orang baru, mereka akan mendengar suara pelan dari bawah lantai dapur.

Langkah kaki.

Naik perlahan.

Mencari orang yang akan menggantikannya turun.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama