𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di pinggir kota tua yang mulai ditinggalkan, berdiri sebuah rumah dua lantai dengan cat abu-abu kusam dan jendela tinggi yang selalu tertutup.
Rumput di halamannya tumbuh liar seolah tidak pernah disentuh tangan manusia. Tidak ada papan dijual. Tidak ada tanda kepemilikan. Namun setiap malam, lampu di lantai atas menyala.
Orang-orang sekitar tahu rumah itu sudah kosong hampir sepuluh tahun.
Damar pindah ke kota itu untuk pekerjaan barunya. Ia bukan tipe yang percaya cerita aneh.
Saat agen properti menawarkan rumah itu dengan harga jauh di bawah pasaran, ia tidak banyak bertanya. Baginya, murah adalah kesempatan.
Hari pertama terasa biasa saja. Rumah itu berdebu, tetapi strukturnya kokoh. Tidak ada perabot tersisa kecuali lemari kayu besar di kamar utama lantai atas. Lemari itu terlalu berat untuk dipindahkan, jadi Damar membiarkannya tetap di sana.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Malam pertama, ia terbangun karena suara ketukan.
Bukan dari pintu depan.
Dari dalam lemari.
Ketukannya pelan, seperti kuku menyentuh kayu. Damar menahan napas, menunggu suara itu berhenti. Ia meyakinkan dirinya bahwa kayu tua memang sering memuai karena perubahan suhu.
Namun ketukan itu berubah menjadi gesekan.
Pelan. Berulang.
Seolah ada sesuatu yang mencoba mencari jalan keluar.
Damar tidak membuka lemari itu malam itu.
Keesokan paginya, ia memeriksa bagian dalamnya. Kosong. Hanya bau lembap dan goresan-goresan panjang di sisi dalam pintu, seperti bekas cakaran lama. Ia mencoba menertawakan rasa takutnya sendiri.
Malam kedua, suara itu kembali. Kali ini lebih jelas.
Ketukan. Gesekan. Lalu sesuatu seperti tarikan napas panjang dari dalam kayu.
Damar bangun dan berdiri di depan lemari. Dadanya terasa berat. Ia meraih gagang pintu dan membukanya dengan cepat.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Kosong.
Namun di bagian dalam pintu, terdapat tulisan yang tidak ia lihat sebelumnya.
Tinggalkan aku di dalam.
Tulisan itu tampak tergores, bukan ditulis dengan tinta. Seperti seseorang mengukirnya dengan kuku.
Damar menutup pintu dengan keras dan mengunci kamar. Ia tidur di sofa ruang tamu malam itu.
Sejak malam itu, rumah mulai berubah.
Ia sering mendengar langkah kaki di lantai atas padahal ia berada sendirian. Kadang terdengar seperti seseorang berjalan pelan dari kamar ke kamar. Kadang seperti seseorang berlari kecil lalu berhenti tepat di atas kepalanya.
Lampu di lantai atas mulai menyala sendiri setiap pukul dua belas malam.
Damar memastikan saklar dalam keadaan mati sebelum tidur. Namun setiap tengah malam, cahaya tipis merembes dari celah tangga.
Ia mulai kehilangan tidur. Wajahnya pucat. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas. Di kantor, ia sulit berkonsentrasi. Setiap kali menutup mata, ia melihat gambaran lemari itu terbuka perlahan, dan sesuatu di dalamnya menatap keluar.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Suatu malam, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Ia naik ke lantai atas tepat sebelum tengah malam dan berdiri di depan lemari. Ia membawa palu dan obeng. Jika lemari itu sumber gangguan, ia akan membongkarnya.
Jam dinding berdentang dua belas kali.
Lampu kamar mati.
Gelap menyelubungi ruangan.
Dalam kegelapan itu, ia mendengar suara yang sangat dekat, tepat di belakangnya. Bukan dari lemari. Dari udara di sekitarnya.
Suara napas yang tidak selaras dengan napasnya sendiri.
Ia membalikkan badan.
Tidak ada apa-apa.
Namun ketika ia menoleh kembali ke lemari, pintunya sudah terbuka sedikit.
Damar tidak mengingat pernah membukanya.
Dari celah itu, keluar bau busuk seperti tanah basah bercampur sesuatu yang membusuk lama. Tangannya gemetar saat ia menarik pintu lebih lebar.
Di dalamnya tidak kosong lagi.
Ada ruang lain.
Bukan dinding kayu.
Melainkan lorong gelap yang memanjang jauh ke dalam, terlalu dalam untuk muat di dalam lemari biasa.
Dinding lorong itu lembap. Ada bekas-bekas goresan di sepanjang sisinya. Di lantai lorong, terlihat jejak tangan kecil menyeret diri.
Damar mundur selangkah.
Lorong itu bergerak.
Bukan secara fisik, melainkan seperti bernapas. Mengembang dan mengempis pelan.
Lalu ia melihat sesuatu di ujung lorong.
Sosok kecil berdiri membelakanginya. Rambut panjang menutupi wajahnya. Tubuhnya kurus dan tidak proporsional. Tangannya terlalu panjang untuk ukuran tubuhnya.
Sosok itu tidak berjalan.
Ia meluncur mendekat tanpa suara.
Damar mencoba berlari keluar kamar, tetapi pintu tertutup. Pegangannya tidak bergerak. Udara terasa semakin dingin. Napasnya menjadi kabut tipis.
Lorong di dalam lemari semakin melebar.
Seolah mengundang.
Seolah menunggu.
Sosok itu kini berdiri tepat di ambang lemari. Kepalanya perlahan miring ke satu sisi, seperti mempelajari wajah Damar.
Lampu kembali menyala tiba-tiba.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Lemari kosong.
Pintu kamar terbuka.
Tidak ada lorong.
Tidak ada sosok.
Namun Damar tidak lagi berada di dalam kamar.
Keesokan harinya, tetangga melihat pintu rumah itu terbuka. Polisi masuk dan menemukan rumah kosong tanpa tanda perlawanan.
Di kamar utama lantai atas, lemari kayu masih berdiri kokoh.
Di bagian dalam pintunya, kini ada dua tulisan tergores.
Tinggalkan aku di dalam.
Dan tepat di bawahnya.
Sekarang giliranku keluar.
Sejak saat itu, setiap malam lampu lantai atas rumah itu tetap menyala. Dan jika seseorang berdiri cukup lama di depan jendelanya, mereka akan melihat bayangan seorang pria berdiri di dalam kamar, menatap keluar tanpa berkedip.
Menunggu.
Jika kamu mau, aku bisa buatkan versi yang lebih sadis, lebih psikologis tanpa makhluk gaib, atau dibuat menjadi novel panjang beberapa bab.
--------
