𝑮𝒆𝒓𝒃𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒅𝒊 𝑼𝒋𝒖𝒏𝒈 𝑺𝒂𝒎𝒖𝒅𝒓𝒂

 

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Langit sore berwarna tembaga ketika kapal kecil bernama Arunika memotong ombak menuju wilayah yang tak tercantum di peta mana pun. 

Di atas dek berdiri Kael, pemuda berusia dua puluh tahun yang mewarisi kapal itu dari ibunya. Ia bukan pelaut paling berpengalaman, bukan pula petarung tangguh, tetapi ia memiliki satu hal yang jarang dimiliki orang lain—tekad untuk menyelesaikan apa yang tak pernah sempat diselesaikan keluarganya.

Sejak kecil, Kael mendengar kisah tentang Gerbang Terakhir, sebuah struktur raksasa yang konon berdiri di tengah samudra, muncul hanya saat bulan merah menggantung di langit. 

Di balik gerbang itu, tersembunyi inti energi purba yang mampu mengubah nasib dunia. Banyak yang mencarinya demi kekuasaan. 

Ibu Kael mencarinya demi menghentikan perang yang merobek negeri-negeri pesisir. Ia tak pernah kembali.

Malam itu bulan mulai berubah warna. Air laut berkilau aneh, seakan ada cahaya dari kedalaman. Angin mendadak berhenti. Laut menjadi tenang seperti kaca. Lalu, dari kejauhan, muncul bayangan hitam raksasa menembus permukaan air.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Gerbang itu nyata.

Dua pilar batu setinggi menara berdiri di atas pusaran air bercahaya biru. Di antaranya terbentang lengkungan besar dengan simbol-simbol bercahaya. Kael menelan ludah. Ini bukan lagi legenda.

Belum sempat ia mendekat, suara mesin lain meraung di sisi kiri. Sebuah kapal baja berlapis senjata muncul dari kabut. Di haluannya berdiri seorang pria berjubah gelap dengan mata tajam seperti elang.

“Anak itu juga datang rupanya,” gumam pria itu. Namanya Varos, pemburu relik yang terkenal kejam.

Tembakan peringatan meletus di udara. Ombak yang tadi tenang mulai bergolak. Kael memutar kemudi, menghindari peluru yang memercikkan air asin. Ia tahu ia tak bisa menang dengan kekuatan. Ia harus lebih cepat.

Pusaran di bawah gerbang mulai berputar semakin kencang. Seolah waktu mereka terbatas. 

Kael melompat ke sekoci kecil dan mendayung sekuat tenaga menuju pusat cahaya. Di belakangnya, sekoci bersenjata milik Varos mengejar.

Saat ia mencapai kaki gerbang, permukaan air terasa seperti lantai kaca. Ia melangkah di atasnya dengan hati berdebar. 

Simbol di pilar menyala saat ia mendekat. Tiba-tiba, bayangan masa lalu terlintas di pikirannya—ibunya berdiri di tempat yang sama, tersenyum, lalu menghilang dalam cahaya.

Varos mendarat tak jauh darinya. “Menjauh, bocah. Ini bukan urusanmu.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Kael berdiri tegak. “Justru ini urusanku.”

Varos mengangkat senjata, tetapi sebelum peluru dilepaskan, simbol gerbang berdenyut kuat. 

Cahaya menyambar, memaksa mereka berlutut. Sebuah suara dalam, seperti gema dari dasar samudra, terdengar di sekitar mereka.

“Hanya hati yang tak dikuasai ambisi yang dapat membuka jalan.”

Varos mencoba bangkit, tetapi pusaran energi menahannya. Amarah dan keserakahan terpancar jelas dari wajahnya. Cahaya menolaknya, melemparkannya kembali ke perahu.

Kael merasakan sesuatu berbeda. Energi di sekitarnya tidak menyakitkan. Ia memikirkan ibunya, memikirkan kota-kota yang hancur oleh perang, memikirkan keinginannya bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menghentikan penderitaan.

Ia melangkah maju dan menyentuh lengkungan gerbang.

Cahaya meledak, bukan menghancurkan, melainkan membentuk lorong bercahaya di hadapannya. Di tengah lorong itu melayang inti energi berbentuk bola kristal berwarna putih kebiruan. 

Kael mendekat perlahan. Saat tangannya menyentuh inti tersebut, ia melihat gambaran masa depan—lautan tenang, kota-kota yang dibangun kembali, dan orang-orang hidup tanpa ketakutan.

Namun ia juga melihat kemungkinan lain—dunia yang hancur jika energi itu disalahgunakan.

Pilihan ada di tangannya.

Kael memejamkan mata dan membuat keputusan yang tidak pernah terpikirkan oleh para pemburu harta sebelumnya. Ia tidak mengambil energi itu. Ia melepaskannya kembali ke pusaran samudra.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Cahaya menyatu dengan laut, menyebar seperti gelombang lembut ke segala arah. Gerbang perlahan tenggelam kembali ke kedalaman. Bulan merah memudar menjadi perak biasa.

Varos yang terlempar jauh hanya bisa menatap marah saat pusaran menghilang. Tanpa energi itu, ia tak lagi memiliki tujuan.

Kael kembali ke kapalnya dengan tubuh lelah namun hati ringan. Ia tidak membawa relik, tidak membawa kekuatan luar biasa. Ia membawa sesuatu yang lebih penting—keyakinan bahwa dunia tidak selalu diselamatkan dengan menguasai kekuatan, tetapi dengan memilih untuk tidak menyalahgunakannya.

Di cakrawala, fajar mulai muncul. Samudra kembali menjadi lautan biasa, seolah tak pernah menyimpan gerbang raksasa di kedalamannya.

Namun Kael tahu, suatu hari nanti Gerbang Terakhir mungkin akan muncul lagi. Dan saat itu tiba, dunia akan membutuhkan seseorang yang berani memilih dengan hati, bukan dengan ambisi.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama