𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Di sebuah kota kecil yang tidak terlalu ramai, ada satu rumah tua di ujung jalan bernama Rumah Nomor 27. Rumah itu sudah lama kosong, setidaknya menurut warga sekitar. Namun ada satu hal yang membuat semua orang merasa tidak nyaman.
Lampunya selalu menyala setiap malam.
Tidak peduli siang atau malam, hujan atau badai, lampu ruang tamu rumah itu selalu terlihat dari jendela depan yang besar.
Padahal, tidak ada yang pernah melihat siapa pun masuk atau keluar dari rumah itu selama bertahun-tahun.
Banyak orang menganggap itu hanya kerusakan listrik biasa. Namun sebagian warga percaya ada sesuatu yang tidak beres.
Salah satu orang yang penasaran adalah Arga, seorang mahasiswa yang baru pindah ke kota itu. Ia menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat tersebut.
Awalnya Arga tidak terlalu memikirkan cerita warga. Baginya itu hanya rumor yang biasa muncul di kota kecil.
Namun suatu malam, ketika ia sedang pulang dari minimarket sekitar pukul sebelas malam, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti berjalan.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Di balik jendela Rumah Nomor 27, terlihat bayangan seseorang sedang berjalan perlahan.
Arga menatap jendela itu cukup lama.
Bayangan itu bergerak dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya. Seperti seseorang yang sedang mondar-mandir.
Padahal warga selalu mengatakan rumah itu kosong.
Rasa penasaran Arga semakin besar.
Keesokan malamnya ia kembali melewati rumah itu dengan sengaja.
Lampunya masih menyala.
Namun kali ini tidak ada bayangan.
Hanya ruang tamu yang terlihat kosong dengan sofa tua dan meja kayu yang berdebu.
Arga mulai berpikir mungkin semalam ia hanya salah lihat.
Tetapi beberapa hari kemudian, sekitar pukul dua pagi, Arga terbangun karena suara ketukan pelan dari luar rumahnya.
Tok. Tok. Tok.
Ia mengira itu hanya suara angin.
Namun suara itu terdengar lagi.
Tok. Tok.
Arga membuka jendela kamarnya untuk melihat keluar.
Jalanan sepi.
Tidak ada siapa pun.
Tetapi ketika ia melihat ke arah Rumah Nomor 27, pintu depannya sedikit terbuka.
Padahal selama ini pintu itu selalu tertutup rapat.
Rasa penasaran Arga akhirnya mengalahkan rasa takutnya.
Ia mengambil senter dan berjalan perlahan menuju rumah itu.
Halaman rumah dipenuhi rumput liar dan daun kering. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ketika ia sampai di depan pintu, Arga mendorongnya perlahan.
Pintu itu terbuka dengan suara berderit panjang.
Di dalam rumah, lampu ruang tamu memang menyala.
Namun tidak ada siapa pun.
Debu menutupi hampir semua perabotan. Seperti tidak ada orang yang membersihkan rumah itu selama bertahun-tahun.
Arga melangkah masuk lebih jauh.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu di dinding.
Ada foto keluarga lama yang tergantung di sana.
Foto itu menampilkan seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak kecil.
Ketika Arga menyinari foto itu dengan senter, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Wajah anak kecil di foto itu terlihat sangat familiar.
Arga mencoba mengingat.
Lalu jantungnya berdetak lebih cepat.
Anak kecil itu sangat mirip dengan dirinya.
Arga mundur perlahan dari dinding.
Saat itulah ia mendengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Langkah pelan.
Berat.
Seperti seseorang berjalan di koridor kayu tua.
Arga menahan napas.
Ia menyorotkan senter ke arah tangga.
Langkah itu berhenti.
Sunyi.
Lalu terdengar suara seorang pria yang sangat pelan dari lantai atas.
“Arga… kamu akhirnya pulang juga…”
Tubuh Arga langsung membeku.
Ia yakin tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa ia ada di sana.
Dan yang membuatnya semakin takut adalah satu hal.
Suara itu terdengar seperti suara ayahnya sendiri.
Padahal ayah Arga sudah meninggal sejak ia masih kecil.
Lampu ruang tamu tiba-tiba padam.
Rumah itu langsung gelap total.
Arga berlari keluar tanpa menoleh lagi.
Sejak malam itu, Arga tidak pernah lagi melewati Rumah Nomor 27.
Namun ada satu hal yang selalu membuatnya merinding setiap kali ia mengingat malam itu.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, ia kembali melihat rumah itu dari kejauhan.
Lampu ruang tamunya masih menyala.
Dan di balik jendela…
Ada bayangan seorang anak kecil yang sedang berdiri diam menatap ke arah jalan.
--------
