𝑷𝒖𝒕𝒓𝒊 𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑲𝒐𝒕𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑯𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di ujung dunia yang tak tercatat dalam peta, berdiri sebuah kota bernama Avaris—kota yang hanya muncul saat gerhana bulan.

Selama ratusan tahun, orang-orang menganggapnya legenda. Kota itu konon dibangun dari batu hitam berkilau, dengan menara-menara tinggi yang memantulkan cahaya bulan seperti perak cair. Namun tidak ada yang pernah kembali untuk membuktikannya.

Kecuali Liora.

Sejak kecil, Liora selalu merasa berbeda. Ia tidak memiliki bayangan.

Di bawah sinar matahari, saat orang lain melihat siluet mereka memanjang di tanah, di belakang Liora tidak ada apa-apa. Kosong. Seolah cahaya menolak mengakui keberadaannya.

Orang-orang menganggapnya pertanda buruk.

Namun pada malam gerhana bulan ke-18 dalam hidupnya, sesuatu terjadi.

Bayangan Liora muncul.

Bukan di tanah.

Melainkan berdiri di depannya.

Sosok itu memiliki wajah yang sama, mata yang sama, tetapi auranya lebih gelap dan dingin. Ia berbicara dengan suara yang terdengar seperti bisikan dari dasar jurang.

“Avaris memanggilmu.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Tanpa sempat menolak, tanah di bawah kaki Liora retak menjadi cahaya. Dunia berputar, dan ketika ia membuka mata, ia berdiri di gerbang kota yang mustahil itu.

Avaris.

Kota itu nyata.

Langitnya berwarna merah keunguan. Udara terasa berat seperti menyimpan rahasia. Jalan-jalan kosong, tetapi lampu-lampu kristal menyala sendiri, seakan kota itu menunggu.

Bayangan Liora berjalan di sampingnya.

“Kau bukan manusia biasa,” katanya. “Kau adalah Pewaris Dua Dunia.”

Liora tidak mengerti. Namun di pusat kota berdiri sebuah menara hitam yang berdenyut seperti jantung. Di sanalah jawabannya.

Saat ia mendekat, bayangannya berhenti.

“Jika kau masuk, kita tidak akan pernah menjadi satu lagi.”

“Bukankah kita memang satu?” tanya Liora.

Bayangannya tersenyum tipis. “Tidak lagi.”

Di dalam menara, Liora menemukan cermin besar retak di tengah ruangan. Dari cermin itu keluar suara yang sama dengan bisikan dalam mimpinya selama ini.

Ia mengetahui kebenaran: dahulu, Avaris adalah kota yang hidup dalam keseimbangan antara cahaya dan bayangan. 

Namun ketika manusia mencoba menghapus kegelapan sepenuhnya, kota itu terpecah dan menghilang dari dunia nyata.

Liora adalah keturunan terakhir penjaga keseimbangan itu.

Karena itulah ia lahir tanpa bayangan—separuh jiwanya tertinggal di Avaris.

Saat gerhana mencapai puncaknya, menara mulai runtuh. Bayangan Liora berdiri di ambang pintu, memandangnya tanpa ekspresi.

“Kau harus memilih,” katanya. “Menjadi utuh dan membiarkan Avaris hilang selamanya, atau tinggal di sini dan menjaga keseimbangan.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Angin kencang berputar di dalam ruangan. Cahaya dan kegelapan bertabrakan seperti badai.

Liora menutup mata.

Selama hidupnya, ia merasa tidak lengkap. Ditolak. Aneh.

Kini ia sadar—ia tidak pernah kekurangan apa pun. Ia hanya terpisah.

Ia melangkah ke arah bayangannya.

Alih-alih menolaknya, ia merentangkan tangan.

Cahaya dan kegelapan menyatu.

Ledakan energi menyelimuti kota.

Saat Liora membuka mata, ia berdiri di bukit kecil di dunia asalnya. Matahari terbit perlahan. Di tanah, bayangannya kini terlihat jelas.

Avaris menghilang.

Namun bukan hancur.

Ia kini hidup dalam dirinya.

Sejak hari itu, Liora bukan lagi gadis tanpa bayangan.

Ia adalah penjaga keseimbangan—yang mengerti bahwa cahaya tanpa kegelapan hanyalah setengah kebenaran.

Dan setiap kali gerhana bulan datang, ia dapat mendengar kota yang hilang itu berbisik lembut, mengingatkannya bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama