𝑷𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝑮𝒆𝒓𝒃𝒂𝒏𝒈 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑲𝒆𝒕𝒖𝒋𝒖𝒉


𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di atas dunia manusia, tersembunyi tujuh lapisan langit yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Setiap lapisan dijaga oleh satu penjaga, dan yang tertinggi disebut Langit Ketujuh—tempat sumber keseimbangan seluruh alam.

Selama ribuan tahun, gerbang menuju Langit Ketujuh terkunci.

Hingga suatu malam, bintang-bintang mulai jatuh.

Di sebuah desa pegunungan, seorang pemuda bernama Arsen menyaksikan langit retak seperti kaca tipis. Dari celah itu, cahaya putih jatuh seperti hujan api, menghantam bumi di berbagai penjuru.

Keesokan harinya, desanya berubah.

Waktu berjalan tidak menentu. Bayangan bergerak tanpa tubuh. Sungai mengalir ke arah yang salah.

Orang-orang ketakutan.

Di tengah kekacauan itu, Arsen menemukan liontin perak milik ayahnya yang telah lama menghilang. Liontin itu kini bersinar terang, memancarkan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Saat ia menyentuhnya, dunia di sekitarnya membeku.

Seorang perempuan berjubah biru muncul dari udara kosong.

“Aku Seraphine, penjaga keenam,” katanya dengan suara tenang namun tegas. “Gerbang Langit Ketujuh telah terbuka. Seseorang mencoba merebut keseimbangan dunia.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Arsen menatapnya bingung. “Kenapa aku?”

Seraphine memandang liontin di tangannya. “Karena darah penjaga mengalir dalam dirimu.”

Ternyata ayah Arsen bukan manusia biasa. Ia adalah penjaga kelima yang memilih hidup di dunia manusia untuk melindungi gerbang dari dalam.

Namun kini, seorang mantan penjaga bernama Kaelor berusaha naik ke Langit Ketujuh untuk menguasai inti cahaya—sumber kekuatan yang dapat mengubah hukum alam.

Arsen tidak pernah memegang pedang, apalagi menghadapi makhluk langit.

Namun ketika desa mulai terhapus satu per satu seperti kabut yang ditiup angin, ia tahu tidak ada pilihan lain.

Seraphine membawanya melewati lapisan langit pertama hingga keenam. Setiap lapisan memiliki ujian berbeda: lautan awan yang dipenuhi naga petir, hutan kristal yang memantulkan ketakutan terdalam, dan kota melayang yang dijaga prajurit bersayap emas.

Di setiap lapisan, Arsen harus memilih—menggunakan kekuatan liontin atau mempertahankan kemanusiaannya.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar kekuatan dalam dirinya bangkit. Cahaya di tangannya mampu membelah badai dan mematahkan pedang surgawi.

Namun Seraphine memperingatkan, “Semakin kau mendekati Langit Ketujuh, semakin kau kehilangan bagian dari dirimu.”

Saat mereka mencapai gerbang terakhir, Kaelor telah menunggu.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ia berdiri di depan inti cahaya—bola energi raksasa yang berputar seperti matahari kecil.

“Keseimbangan hanyalah ilusi,” kata Kaelor. 

“Dunia membutuhkan satu penguasa, bukan tujuh penjaga.”

Pertarungan terjadi di antara langit dan kehampaan. Cahaya dan kilat saling bertabrakan, membelah awan menjadi serpihan bercahaya.

Arsen hampir kalah.

Namun di tengah keputusasaan, ia teringat wajah orang-orang di desanya—senyum ibunya, suara tawa anak-anak, dan harapan yang sederhana.

Ia menyadari sesuatu.

Kekuatan sejati bukan berasal dari langit, tetapi dari alasan mengapa seseorang bertarung.

Dengan tekad itu, ia tidak mencoba merebut inti cahaya.

Ia justru menstabilkannya.

Cahaya meredup menjadi lembut. Kaelor terseret oleh energi yang ia coba kuasai dan menghilang ke kehampaan.

Langit kembali utuh.

Seraphine tersenyum tipis. “Kau tidak menjadi penguasa. Kau memilih menjadi penjaga.”

Arsen kembali ke desanya. Waktu berjalan normal kembali. Sungai mengalir seperti biasa.

Namun kini ia tahu, setiap kali ia menatap langit malam, ada enam penjaga lain yang berdiri di atas sana.

Dan suatu hari nanti, ketika gerbang kembali bergetar, ia akan naik lagi.

Bukan untuk menguasai.

Tetapi untuk menjaga.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama