𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝑲𝒐𝒕𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝑺𝒖𝒏𝒚𝒊


Malam itu kota terlihat seperti biasanya—lampu jalan menyala, kendaraan masih lalu lalang, dan suara orang-orang dari warung kopi di pinggir jalan masih terdengar. Tapi bagi Raka, semuanya terasa berbeda. Sejak kecil ia selalu merasa ada sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Raka bekerja sebagai penjaga malam di sebuah gedung tua di pusat kota. Gedung itu sudah lama kosong karena katanya akan direnovasi, tetapi sampai sekarang tidak pernah benar-benar diperbaiki. Banyak orang menghindari tempat itu karena katanya sering terdengar suara aneh di malam hari.

Namun bagi Raka, pekerjaan itu justru terasa cocok. Ia memang lebih nyaman dengan kesunyian.

Setiap malam tugasnya hanya berkeliling lantai demi lantai memastikan tidak ada orang yang masuk. Gedung itu memiliki dua belas lantai, dan sebagian besar ruangan sudah kosong. Hanya ada meja tua, kursi rusak, dan jendela besar yang menghadap ke lampu kota.

Pada awalnya semuanya berjalan biasa saja.

Sampai suatu malam Raka melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Ketika ia sampai di lantai sembilan, ia melihat cahaya samar di ujung koridor. Ia pikir mungkin ada orang yang masuk tanpa izin. Dengan langkah pelan ia berjalan mendekat.

Tapi ketika ia sampai di sana, tidak ada siapa-siapa.

Hanya ada sebuah pintu yang sedikit terbuka.

Aneh, karena sebelumnya semua pintu sudah ia kunci.

Raka mendorong pintu itu perlahan. Di dalam ruangan hanya ada jendela besar yang langsung menghadap langit malam. Tidak ada lampu, tetapi ruangan itu tetap terang oleh cahaya bulan.

Saat itulah Raka menyadari sesuatu yang aneh.

Langit yang ia lihat dari jendela tidak sama dengan langit kota.

Bintang-bintangnya lebih banyak. Dan warnanya sedikit ungu, seperti langit di tempat yang jauh sekali.

Raka berkedip beberapa kali, mencoba memastikan ia tidak berhalusinasi.

Tiba-tiba terdengar suara langkah dari belakangnya.

Seorang pria tua berdiri di ambang pintu. Rambutnya sudah memutih dan ia mengenakan mantel panjang yang terlihat sangat tua.

"Sudah lama tidak ada yang menemukan ruangan ini," kata pria itu dengan suara tenang.

Raka terkejut.
"Siapa Anda? Bagaimana bisa masuk ke gedung ini?"

Pria itu hanya tersenyum kecil.

"Tempat ini bukan sekadar gedung kosong," katanya sambil melihat ke arah jendela.
"Beberapa tempat di dunia memiliki celah kecil… yang menghubungkan dua realitas."

Raka tidak langsung percaya.

Namun ketika ia melihat kembali ke jendela, langit itu benar-benar berbeda. Bintang-bintang tampak bergerak perlahan, seperti lautan cahaya.

"Ini… bukan langit kota," bisik Raka.

Pria tua itu mengangguk.

"Tempat itu adalah dunia yang berjalan berdampingan dengan dunia kita. Kebanyakan orang tidak akan pernah melihatnya."

Raka berdiri lama di depan jendela itu. Ia merasa seperti melihat sesuatu yang selama ini hanya ada dalam mimpi.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih banyak, pria tua itu berkata pelan,

"Jangan terlalu sering datang ke ruangan ini."

"Kenapa?" tanya Raka.

Pria itu menatap langit ungu itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Karena semakin sering kamu melihat dunia lain… semakin sulit kamu kembali merasa bahwa dunia ini adalah rumahmu."

Keesokan paginya ketika Raka kembali ke lantai sembilan, ruangan itu sudah tidak ada.

Hanya ada tembok kosong seperti ruangan lain di gedung itu.

Tidak ada pintu.
Tidak ada jendela.

Dan tidak ada langit ungu.

Namun sejak malam itu, setiap kali Raka melihat langit kota, ia selalu merasa seolah ada dunia lain yang sangat dekat… tapi tidak bisa lagi ia temukan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama