𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝑴𝒆𝒏𝒈𝒊𝒌𝒖𝒕𝒊

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Sejak kecil, Raka selalu takut pada bayangannya sendiri.

Bukan karena bentuknya.

Melainkan karena ia pernah melihat bayangannya bergerak lebih dulu darinya.

Itu terjadi saat ia berusia sembilan tahun. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi dengan lampu menyala terang. Ia mengangkat tangan kanan.

Bayangannya mengangkat tangan kiri.

Normal.

Namun sepersekian detik sebelum ia benar-benar mengangkat tangan, bayangan itu sudah lebih dulu bergerak.

Seolah-olah tahu.

Raka berteriak waktu itu. Orang tuanya menganggapnya imajinasi anak kecil.

Ia mencoba melupakan kejadian itu.

Bertahun-tahun kemudian, setelah orang tuanya meninggal dan ia tinggal sendirian di apartemen kecil lantai tujuh, kejadian itu kembali.

Suatu malam, listrik padam.

Hanya cahaya bulan masuk melalui jendela.

Raka berjalan ke dapur untuk mencari senter.

Ia melihat bayangannya di dinding ruang tamu.

Namun langkah bayangan itu sedikit lebih lambat darinya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Bukan lebih cepat seperti dulu.

Melainkan tertinggal.

Seperti enggan mengikuti.

Ia berhenti.

Bayangan itu masih bergerak satu langkah lagi sebelum ikut berhenti.

Jantung Raka berdegup keras.

Ia mencoba menggerakkan tangannya perlahan.

Bayangan itu bergerak… tapi dengan sudut yang berbeda.

Terlalu tinggi.

Terlalu panjang.

Sejak malam itu, bayangannya mulai berperilaku aneh.

Kadang saat ia duduk, bayangan tetap berdiri.

Saat ia menoleh ke kanan, bayangan sesaat masih menghadap lurus.

Dan yang paling mengganggu, kadang bayangan itu terlihat lebih kurus dari tubuhnya.

Seolah-olah sesuatu sedang mengikisnya.

Raka mulai menghindari cahaya terang.

Ia menutup tirai.

Ia mematikan lampu.

Ia tidak ingin melihatnya.

Namun bayangan tetap ada, bahkan dalam cahaya paling redup.

Suatu malam, saat ia berdiri di depan jendela dengan lampu kota sebagai sumber cahaya, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Bayangannya tidak lagi menempel pada kakinya.

Ada celah kecil antara telapak kakinya dan bayangan itu.

Seperti bayangan itu berdiri sendiri.

Ia melangkah mundur.

Bayangan itu tetap di tempatnya.

Lalu perlahan… melangkah maju.

Menuju arahnya.

Raka tersandung dan jatuh.

Lampu kota berkedip.

Dalam cahaya yang tidak stabil itu, ia melihat bayangannya kini berdiri di depannya, bukan di belakangnya.

Bentuknya tinggi.

Lehernya sedikit miring.

Kepalanya terlalu panjang.

Bayangan itu tidak memiliki wajah, tetapi Raka merasa sedang ditatap.

Lampu kembali stabil.

Bayangan kembali ke lantai.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Raka mulai kehilangan berat badan sejak malam itu.

Wajahnya tampak pucat.

Lingkaran hitam di bawah matanya semakin dalam.

Ia merasa lelah sepanjang waktu.

Seperti ada sesuatu yang terus mengambil sedikit demi sedikit energinya.

Dan setiap kali ia melihat bayangannya, bentuk itu tampak semakin tebal.

Semakin nyata.

Suatu pagi, ia berdiri di depan cermin.

Cahaya matahari masuk terang.

Ia melihat dirinya.

Dan di belakangnya, di dinding, bayangannya berdiri terlalu dekat.

Lebih dekat dari jarak tubuhnya ke cermin.

Bayangan itu perlahan mengangkat tangan.

Raka tidak bergerak.

Tangan bayangan itu menyentuh bahunya.

Raka merasakan sentuhan dingin di kulitnya.

Untuk pertama kalinya, bayangan itu menyentuh dunia nyata.

Hari-hari berikutnya, Raka mulai jarang terlihat keluar apartemen.

Tetangga mendengar suara benda jatuh beberapa kali dari dalam.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Namun tidak ada yang memeriksa.

Suatu malam, lampu-lampu apartemen lantai tujuh berkedip bersamaan.

Beberapa penghuni melihat sesuatu aneh melalui jendela Raka.

Bayangan besar di dinding.

Terlalu besar untuk satu orang.

Keesokan paginya, pintu apartemen Raka terbuka sedikit.

Tidak ada tanda perlawanan.

Tidak ada darah.

Tidak ada kekacauan.

Hanya satu hal yang aneh.

Tidak ada bayangan di dalam apartemen itu.

Tidak ada satu pun.

Matahari masuk melalui jendela.

Namun tubuh Raka yang terbaring di lantai tidak memiliki bayangan sama sekali.

Dan di dinding ruang tamu, ada satu bayangan berdiri sendiri.

Diam.

Menunggu cahaya berikutnya untuk bergerak lagi.

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama