𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 - Setiap hari pukul enam pagi, Pak Wiryo berjalan ke kotak suratnya.
Rumahnya kecil, berada di ujung gang yang jarang dilewati orang. Sejak istrinya meninggal dua tahun lalu, ia hidup sendirian. Tidak banyak yang berubah dalam rutinitasnya: bangun pagi, menyeduh kopi, menyiram tanaman, lalu memeriksa kotak surat.
Biasanya kosong.
Namun suatu pagi, ia menemukan sebuah amplop putih tanpa perangko.
Namanya tertulis di depan.
Tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan tangannya sendiri.
Pak Wiryo berdiri lama memandangi amplop itu sebelum membukanya. Kertas di dalamnya hanya berisi satu kalimat:
“Jangan buka pintu malam ini.”
Ia tersenyum kecil. Menganggap itu lelucon buruk seseorang. Mungkin anak-anak iseng. Ia merobek kertas itu dan membuangnya.
Malamnya, tepat pukul sembilan, seseorang mengetuk pintunya.
Tiga kali.
Pelan.
Pak Wiryo terdiam. Rumahnya jarang sekali dikunjungi malam hari. Ia berjalan ke pintu, namun entah mengapa, kalimat di surat tadi terlintas di kepalanya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Jangan buka pintu malam ini.
Ketukan terdengar lagi.
Tiga kali.
Lebih keras.
Ia mendekat ke lubang intip.
Tidak ada siapa pun.
Hanya gang sempit dan lampu jalan yang berkedip.
Ketukan berhenti.
Ia menunggu beberapa menit sebelum kembali ke kursinya.
Keesokan paginya, sebuah amplop lagi sudah berada di kotak surat.
Tanpa perangko.
Dengan tulisan tangannya sendiri.
Ia membukanya dengan tangan gemetar.
“Kau membukanya sedikit.”
Pak Wiryo merasa dingin menjalar di punggungnya. Ia yakin semalam tidak membuka pintu. Ia hanya melihat melalui lubang intip.
Ia memeriksa gagang pintu.
Tidak ada tanda rusak.
Tidak ada jejak.
Malam berikutnya, ia memutuskan mengunci pintu lebih rapat. Ia bahkan menggeser lemari kecil di belakangnya.
Pukul sembilan tepat, ketukan itu kembali.
Tiga kali.
Lebih pelan kali ini.
Seolah yakin akan dibukakan.
Pak Wiryo duduk di kursi, mencoba mengabaikannya.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ketukan berubah menjadi goresan.
Seperti kuku yang diseret perlahan di kayu.
Ia memejamkan mata, menahan napas.
Goresan itu berhenti.
Namun terdengar sesuatu yang lebih mengerikan.
Suara kunci diputar.
Dari luar.
Padahal hanya ia yang memiliki kunci.
Pak Wiryo bangkit dan berlari ke pintu.
Kunci masih terpasang dari dalam.
Namun gagangnya bergerak sedikit.
Seperti ditekan.
Ia tidak membuka pintu malam itu.
Keesokan paginya, amplop ketiga sudah menunggu.
“Kau tidak membukanya. Bagus.”
Tangannya gemetar hebat saat membaca kalimat berikutnya.
“Besok aku akan mencoba masuk dari belakang.”
Pak Wiryo tidak memiliki pintu belakang.
Rumahnya hanya satu pintu.
Ia mengelilingi rumah, memeriksa setiap jendela.
Semua terkunci.
Malam itu, ia duduk di tengah ruang tamu dengan lampu menyala terang.
Pukul sembilan lewat lima menit.
Tidak ada ketukan.
Ia hampir merasa lega.
Namun dari arah dapur terdengar suara pelan.
Kayu retak.
Seperti ada sesuatu yang menekan dari luar.
Dinding dapur bergetar halus.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia perhatikan.
Di belakang lemari dapur tua, ada bekas pintu yang pernah ditutup permanen.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞: 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃
Ia merasa napasnya tercekat.
Goresan terdengar dari sana.
Pelan.
Berirama.
Seperti seseorang mencoba menemukan celah.
Pak Wiryo mundur perlahan.
Lampu dapur berkedip.
Dan dari balik papan kayu tua itu, terdengar suara napas.
Dekat.
Sangat dekat.
Malam itu ia tidak tidur.
Pagi berikutnya, amplop terakhir sudah ada di kotak surat.
Kertasnya sedikit basah.
Tulisan tangannya terlihat lebih goyah.
“Maaf. Aku sudah masuk.”
Gang itu tetap sunyi seperti biasa.
Tetangga tidak pernah mendengar apa pun.
Beberapa hari kemudian, rumah Pak Wiryo terlihat kosong. Tanamannya layu. Lampu tidak pernah menyala lagi.
Orang-orang mengira ia pindah diam-diam.
Namun jika seseorang berdiri di depan kotak surat rumah itu saat pagi hari, mereka mungkin akan menemukan amplop baru.
Dengan nama mereka sendiri di depan.
Ditulis dengan tulisan tangan yang sangat mirip dengan milik mereka.
Dan hanya satu kalimat di dalamnya:
“Jangan buka pintu malam ini.”
--------
