𝑲𝒐𝒓𝒊𝒅𝒐𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝑨𝒅𝒂 𝒅𝒊 𝑫𝒆𝒏𝒂𝒉

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Ketika Dita menandatangani kontrak kerja sebagai perawat jaga malam di Rumah Sakit Taman Surya, ia mengira yang akan ia hadapi hanyalah kelelahan dan pasien-pasien dengan penyakit berat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa yang paling menguras tenaganya bukanlah darah atau jeritan, melainkan sesuatu yang tidak pernah tercatat di laporan mana pun.

Rumah sakit itu tua. Bangunannya memanjang seperti huruf L, dengan cat putih yang sudah menguning dan lampu lorong yang selalu terlalu redup. 

Dita mulai bekerja pada awal musim hujan, ketika malam terasa lebih panjang dan suara angin sering terdengar seperti desahan di balik jendela.

Malam pertamanya berjalan normal. Ia berkeliling lantai tiga, memeriksa pasien satu per satu. Lorong itu panjang, dengan kamar di kiri dan kanan, serta satu tangga darurat di ujungnya. 

Tidak ada yang aneh, kecuali satu hal kecil yang baru ia sadari saat hampir selesai ronde: di ujung lorong, setelah tangga darurat, ada satu belokan kecil yang tidak pernah ia lihat di siang hari.

Ia berhenti dan menatapnya.

Belokan itu sempit, gelap, dan tidak memiliki papan penunjuk. Dita yakin sebelumnya tidak ada bagian itu. Ia sudah mempelajari denah rumah sakit saat orientasi. Lantai tiga hanya memiliki satu lorong lurus.

Namun belokan itu ada.

Lampu di atasnya berkedip pelan.

Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Ia melangkah mendekat.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Semakin ia berjalan, semakin lorong itu terasa lebih sunyi daripada bagian lain rumah sakit. Tidak ada suara mesin monitor. Tidak ada dengung AC. Hanya langkahnya sendiri yang bergema pelan.

Di ujung lorong sempit itu, terdapat satu pintu.

Tanpa nomor kamar.

Tanpa kaca pengintip.

Hanya pintu kayu abu-abu dengan gagang logam kusam.

Dita berdiri lama di depannya sebelum akhirnya memutar gagang itu perlahan.

Pintu terbuka tanpa suara.

Di dalamnya bukan kamar pasien.

Melainkan ruangan kosong dengan satu tempat tidur besi di tengahnya.

Lampu neon di langit-langit menyala redup. Dindingnya polos. Lantai bersih.

Dan di atas tempat tidur itu, ada sesuatu yang membuat tengkuknya merinding.

Sepasang sandal rumah sakit.

Seolah ada seseorang yang baru saja duduk di sana dan melepasnya.

Dita masuk satu langkah.

Udara di dalam ruangan itu terasa lebih dingin daripada lorong.

Ia mendekati tempat tidur.

Spreinya rapi, namun terdapat cekungan samar di tengah kasur.

Seperti bekas tubuh yang baru saja bangkit.

Ia mundur perlahan, jantungnya berdetak lebih cepat. Ketika ia kembali ke lorong utama dan menoleh ke belakang, belokan itu sudah tidak ada.

Hanya dinding putih polos.

Ia berdiri terpaku.

Mungkin ia salah arah. Mungkin lelah.

Namun malam berikutnya, belokan itu muncul lagi.

Dan kali ini, pintunya sudah terbuka.

Ruangan kosong itu kini tidak lagi kosong.

Di atas tempat tidur besi, duduk seorang perempuan dengan gaun pasien berwarna pucat. Rambutnya panjang menutupi wajah. Tubuhnya terlalu diam untuk seseorang yang hidup.

Dita tidak bisa melihat napasnya naik turun.

Perempuan itu tidak bergerak, tetapi Dita merasakan tatapan yang menembus kulitnya.

Langkah Dita terasa berat saat ia mendekat.

Saat jarak mereka tinggal beberapa meter, perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya.

Wajahnya pucat, hampir transparan.

Dan yang membuat Dita membeku bukanlah warna kulitnya, melainkan wajah itu sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

Versi yang lebih kurus.

Lebih kosong.

Mata perempuan itu terbuka lebar, namun tidak memantulkan cahaya.

Dita ingin berteriak, tetapi suaranya tidak keluar.

Lampu neon berkedip cepat.

Dan dalam satu kedipan panjang, ruangan itu kembali kosong.

Hanya tempat tidur besi.

Dan sepasang sandal.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Malam-malam berikutnya, Dita mulai merasa perubahan dalam dirinya. Ia sering kehilangan waktu. Kadang ia berdiri di ujung lorong tanpa ingat bagaimana ia sampai di sana. Kadang ia menemukan catatan tulisan tangannya sendiri di saku seragamnya, bertuliskan kalimat yang tidak pernah ia tulis:

“Jangan terlalu jauh masuk.”

Ia mulai mencari denah lama rumah sakit di ruang arsip. Setelah berjam-jam membongkar dokumen, ia menemukan cetak biru bangunan tahun 1978.

Dan di sana, di lantai tiga, memang pernah ada satu koridor tambahan.

Koridor isolasi.

Digunakan untuk pasien gangguan jiwa berat.

Koridor itu ditutup setelah sebuah insiden.

Tidak ada detail insiden dalam dokumen.

Hanya satu catatan kecil di pinggir kertas:

“Satu perawat tidak pernah ditemukan.”

Dita merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya saat membaca itu.

Malam itu, saat belokan muncul lagi, ia tidak menunggu lama.

Ia berjalan lurus ke arahnya.

Lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Lampu-lampu di atasnya padam satu per satu saat ia melangkah.

Di ujungnya, pintu sudah terbuka lebar.

Ruangan itu kini tidak lagi kosong.

Ada dua tempat tidur besi.

Di salah satunya duduk perempuan berwajahnya.

Di tempat tidur yang lain, terbaring seseorang dengan seragam perawat lama.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Wajahnya rusak, seperti terkikis waktu.

Namun bentuk tubuhnya jelas seorang perempuan.

Dita merasa napasnya tercekat.

Perempuan berwajahnya itu berdiri perlahan dari tempat tidur.

Ia melangkah mendekat.

Langkahnya tidak bersuara.

Dan saat jarak mereka tinggal satu langkah, Dita menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada kemiripan wajah.

Tubuhnya sendiri mulai terasa ringan.

Transparan.

Perempuan di depannya tampak semakin padat.

Semakin nyata.

Lorong itu bukan sekadar ruang tersembunyi.

Ia adalah tempat pertukaran.

Tempat seseorang yang terlalu lama berjalan di dalamnya akan digantikan.

Lampu neon berkedip keras.

Dan ketika semuanya kembali terang, lorong itu kembali menjadi dinding putih biasa.

Di lantai tiga, perawat baru mulai bekerja minggu berikutnya.

Ia sering merasa ada bagian lorong yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Dan setiap malam, tepat pukul dua, ia merasa seperti ada seseorang berjalan pelan di belakangnya.

Langkah yang sama.

Ritme yang sama.

Menunggu saat ia menoleh terlalu jauh ke ujung lorong. 

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama