𝑹𝒂𝒉𝒂𝒔𝒊𝒂 𝑰𝒔𝒕𝒂𝒏𝒂 𝒅𝒊 𝑨𝒕𝒂𝒔 𝑨𝒘𝒂𝒏

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah lembah hijau yang dikelilingi pegunungan tinggi, hiduplah seorang anak perempuan bernama Nayla. Ia bukan putri kerajaan, bukan pula anak bangsawan. Nayla hanyalah anak pembuat roti sederhana yang tinggal di rumah kecil beratap jerami di tepi sungai.

Namun Nayla memiliki satu hal yang berbeda dari anak-anak lain: ia sangat percaya pada keajaiban.

Sejak kecil, ia sering menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan. Di antara awan-awan yang berarak, ia selalu melihat bentuk seperti menara dan kubah. “Itu pasti istana di atas awan,” katanya pada ayahnya.

Ayahnya hanya tersenyum. “Kalau kau percaya, mungkin suatu hari kau akan menemukannya.”

Suatu malam saat bulan purnama bersinar sangat terang, Nayla terbangun karena mendengar suara gemerincing lembut. Ia membuka jendela dan terkejut melihat sesuatu yang luar biasa—sebuah tangga bercahaya turun dari langit, tepat di halaman rumahnya.

Jantungnya berdebar kencang. Tanpa ragu, Nayla mengenakan selendang birunya dan melangkah keluar. Tangga itu terasa hangat saat ia pijak. Setiap langkah membuatnya semakin tinggi, melewati atap rumah, melewati puncak pohon, hingga menembus awan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Di atas sana, benar-benar ada sebuah istana.

Istana itu terbuat dari kristal bening berkilauan, memantulkan cahaya bulan seperti ribuan bintang kecil. Pintu gerbangnya terbuka perlahan saat Nayla mendekat.

Di dalam istana, Nayla bertemu seorang wanita tua berjubah perak dengan rambut panjang seputih salju.

“Aku adalah Penjaga Waktu,” ucap wanita itu lembut. “Hanya mereka yang hatinya penuh keyakinan yang bisa melihat tangga cahaya.”

Nayla terpukau. “Kenapa aku dibawa ke sini?”

Wanita itu tersenyum tipis. “Karena dunia sedang kehilangan harapan. Dan hanya seseorang yang percaya pada keajaiban yang bisa mengembalikannya.”

Ternyata, di balik keindahan istana awan, terdapat sebuah jam raksasa—Jam Harapan. Jam itu mengatur cahaya, musim, bahkan mimpi manusia. Namun jarumnya kini bergerak sangat lambat.

“Jika jam ini berhenti,” kata Sang Penjaga, “manusia akan berhenti bermimpi.”

Tiba-tiba langit di luar istana berubah gelap. Awan-awan hitam berputar membentuk sosok besar dengan mata berkilat kelabu.

“Aku adalah Keraguan!” suaranya menggelegar. “Aku tumbuh setiap kali manusia berhenti percaya.”

Keraguan mencoba meraih Jam Harapan. Istana bergetar. Lantai kristal retak perlahan.

Nayla gemetar. Ia hanyalah anak pembuat roti. Apa yang bisa ia lakukan melawan makhluk sebesar itu?

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Namun ia teringat ayahnya. Terbayang wajah pelanggan yang tersenyum saat mencicipi roti hangat. Terbayang anak-anak desa yang tertawa saat bermain di ladang.

Ia mengepalkan tangan. “Aku percaya,” bisiknya.

Cahaya kecil muncul dari dadanya. Awalnya redup, namun semakin lama semakin terang. Keraguan berusaha mendekat, tetapi setiap langkahnya melemah oleh cahaya itu.

“Aku mungkin bukan putri,” kata Nayla dengan suara bergetar namun tegas, “tapi aku percaya setiap orang punya cahaya di dalam hatinya.”

Cahaya Nayla menyentuh Jam Harapan. Jarumnya mulai bergerak cepat kembali. Dentangnya menggema ke seluruh langit.

Keraguan menjerit dan perlahan larut menjadi kabut tipis.

Istana kembali bersinar indah. Sang Penjaga Waktu menatap Nayla dengan bangga. “Kau telah mengingatkan dunia tentang arti percaya.”

Tangga cahaya kembali muncul. Saat Nayla menuruni tangga, fajar mulai menyingsing.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Ia kembali ke rumahnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun sejak hari itu, desa terasa berbeda. Tanaman tumbuh lebih subur. Orang-orang tersenyum lebih sering. Anak-anak bercerita tentang mimpi-mimpi indah mereka.

Dan setiap malam, ketika Nayla menatap langit, ia tahu istana di atas awan masih ada.

Ia tidak lagi bertanya apakah keajaiban itu nyata. Karena ia sudah pernah menjadi bagian darinya.

Pesan dari dongeng ini sederhana: keajaiban tidak selalu turun dari langit. Kadang, ia tumbuh dari hati yang tidak pernah berhenti percaya. 🌟

--------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama