𝐆𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐋𝐮𝐠𝐮 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐝𝐚 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐞 - 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟑

 

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

LAMPU4D   - Mata Maxime menyipit. “Jangan menguji batas kesabaranku, Luna.”

Luna menelan ludah, lalu berkata, “Aku tidak mencintaimu.”

Hening.

Maxime menatapnya tanpa berkedip. “Aku tidak butuh kamu mencintaiku sekarang.”

Luna tercekat. “Lalu kamu butuh apa.”

Maxime mendekat sampai jarak mereka tipis. “Aku butuh kamu tetap hidup.”

Itu pertama kalinya Luna melihat ketakutan yang disembunyikan Maxime, bukan takut mati, tapi takut kehilangan.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Namun Luna tetap Luna. Ia manja, tapi keras kepala. Ia ingin merasakan kebebasan, walau sedikit. Suatu malam, saat penjaga berganti dan Aidan sedang pergi menemui Hazel Paige, kekasihnya, Luna memutuskan kabur.

Hazel adalah satu-satunya orang di lingkaran itu yang selalu tersenyum hangat pada Luna. Saat Hazel datang ke markas, ia sering membawakan camilan, membuat suasana terasa normal. Aidan selalu berubah lembut saat Hazel ada, seolah senjata pun bisa istirahat.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗

“Aku nggak suka tempat ini,” Luna pernah berbisik pada Hazel.

Hazel memegang tangan Luna. “Aku tahu. Tapi Maxime… dia bukan jahat, Luna. Dia cuma tidak pernah belajar cara mencintai yang sehat.”

“Dan aku yang jadi korbannya,” jawab Luna lirih.

Hazel menghela napas. “Jangan kabur sendirian. Kalau kamu harus pergi, bilang dulu.”

Luna mengangguk waktu itu, tapi malam kabur, ia tidak bilang siapa pun.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Ia lolos dari pagar belakang, naik taksi, dan pergi ke tempat yang ia ingat dari masa kecilnya, sebuah rumah kecil di pinggir kota. Ia menangis sepanjang perjalanan, tubuhnya gemetar karena ketakutan yang baru ia mengerti, bahwa Maxime pasti akan mengejar.

Dan benar saja.

Maxime menemukan Luna sebelum matahari naik. Pintu rumah kecil itu terbuka keras. Luna menoleh, wajahnya pucat.

“Maxime…” suaranya putus.

Maxime berdiri di ambang pintu, basah oleh hujan, mata gelap seperti malam. “Kamu kabur.”

Luna mundur. “Aku cuma… aku butuh napas.”

Maxime melangkah cepat, memegang bahu Luna. “Kamu tahu apa yang bisa terjadi kalau kamu sendirian.”

Luna memberontak. “Lepaskan aku.”

Maxime tidak melepaskan. Suaranya turun, bergetar marah dan takut sekaligus. “Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Luna menatapnya, air mata mengalir. “Kamu tidak bisa memenjarakan aku seumur hidup.”

Maxime menunduk, dahi mereka hampir bersentuhan. “Aku tidak memenjarakan kamu, Luna. Aku menjaga kamu. Bedanya cuma di cara kamu memandang.”

Luna terisak. “Aku takut sama kamu.”

Kalimat itu menusuk.

Maxime diam lama, lalu pelan-pelan melepas bahu Luna. “Kalau kamu takut, aku akan belajar.”

Luna menatapnya, bingung. Maxime, penguasa mafia, mengatakan ia akan belajar.

Di perjalanan pulang, Luna demam. Mungkin karena kehujanan, mungkin karena stres. Tubuhnya panas, napasnya berat. Saat sampai rumah, Maxime mengangkat Luna ke kamar tanpa peduli tatapan orang lain.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

Aidan datang tergesa. “Dokter sudah di jalan.”

Maxime duduk di sisi ranjang, memegang tangan Luna yang dingin. Luna membuka mata setengah.

“Kamu… marah,” bisik Luna.

Maxime menggeleng pelan. “Aku takut.”

Luna menelan napas. “Kenapa.”

BERSAMBUNG

ᴛᴜɴɢɢᴜɪɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ꜱᴇʟᴀɴᴊᴜᴛɴʏᴀ ᴛᴇᴍᴀɴ-ᴛᴇᴍᴀɴ ᴀᴋᴜ😊

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 : LAMPU4D


𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama