Gerbang Pelangi di Dunia Tanpa Bayangan

𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 Di sebuah dunia yang tak tercatat dalam peta mana pun, terdapat sebuah kota kuno bernama Luminara. Kota ini terkenal karena satu hal yang tidak dimiliki tempat lain: tidak ada bayangan. 

Siang maupun malam, cahaya selalu hadir, namun tanpa sumber yang jelas. Warga Luminara hidup dalam kedamaian, meski mereka tak pernah benar-benar memahami asal cahaya tersebut.

Namun, legenda lama yang mulai terlupakan menyebutkan tentang sebuah gerbang misterius—Gerbang Pelangi. Konon, gerbang itu hanya muncul setiap seratus tahun sekali dan dapat mengabulkan satu keinginan bagi siapa saja yang berhasil menemukannya.

Arka, seorang pemuda sederhana yang tinggal di pinggiran kota, adalah satu dari sedikit orang yang masih mempercayai legenda itu. Sejak kecil, ia selalu merasa bahwa dunia Luminara menyimpan rahasia besar yang belum terungkap. Berbeda dengan warga lain yang puas dengan kehidupan tanpa pertanyaan, Arka justru dipenuhi rasa ingin tahu.

Suatu malam, ketika langit tampak berbeda dari biasanya—berwarna keemasan dengan kilatan cahaya berwarna-warni—Arka merasakan sesuatu yang aneh. Ia berdiri di atas bukit kecil di dekat rumahnya dan melihat garis cahaya membelah langit seperti pelangi yang bergerak.

“Ini pasti tanda…” bisiknya.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Tanpa ragu, Arka mengambil tas kecil berisi perbekalan dan mulai mengikuti arah cahaya tersebut. Perjalanannya membawanya keluar dari batas kota, ke wilayah yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya.

Di tengah hutan yang gelap namun tetap bercahaya, Arka menemukan sesuatu yang luar biasa. Sebuah gerbang raksasa berdiri megah, dihiasi warna-warna pelangi yang berpendar lembut. Gerbang itu tampak hidup, seolah bernafas dalam diam.

“Jadi ini… Gerbang Pelangi,” ucap Arka dengan takjub.

Namun, sebelum ia sempat mendekat, suara misterius terdengar dari balik gerbang.

“Tidak semua yang datang ke sini siap menerima kebenaran.”

Arka terkejut. “Siapa itu?”

Dari balik cahaya, muncul sosok wanita berambut panjang berwarna perak. Matanya bersinar seperti bintang.

“Aku Lyra, penjaga gerbang ini,” katanya tenang. “Jika kau ingin masuk, kau harus menjawab satu pertanyaan.”

Arka menelan ludah. “Apa pertanyaannya?”

Lyra menatapnya dalam-dalam. “Apa yang paling kau inginkan?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun Arka terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu. Selama ini, ia hanya ingin mengetahui kebenaran tentang dunia.

“Aku ingin tahu… kenapa dunia ini tanpa bayangan,” jawabnya akhirnya.

Lyra tersenyum tipis. “Jawaban yang jujur. Tapi ingat, kebenaran tidak selalu indah.”

Gerbang perlahan terbuka.

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

Cahaya yang sangat terang menyelimuti Arka saat ia melangkah masuk. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di hutan. Ia berdiri di sebuah dunia yang sangat berbeda—gelap, dingin, dan penuh bayangan.

“Ini… kebalikan dari Luminara,” gumamnya.

Di dunia ini, bayangan memiliki bentuk dan bergerak bebas. Arka melihat sosok-sosok hitam melayang di sekitar, seolah hidup.

“Tahukah kau, Arka,” suara Lyra terdengar lagi, meski ia tak terlihat. “Dunia Luminara dulu sama seperti ini.”

Arka mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Dulu, manusia hidup berdampingan dengan bayangan mereka. Namun, karena rasa takut dan keinginan untuk hidup tanpa kegelapan, mereka mengorbankan bayangan mereka.”

Arka terkejut. “Mengorbankan?”

“Ya. Mereka menciptakan Gerbang Pelangi untuk memisahkan cahaya dan bayangan. Luminara adalah hasil dari cahaya yang tersisa. Sementara dunia ini adalah tempat semua bayangan dibuang.”

Arka menatap sekelilingnya dengan perasaan campur aduk. “Jadi… bayangan itu sebenarnya bagian dari kita?”

“Benar,” jawab Lyra. “Tanpa bayangan, manusia kehilangan keseimbangan. Mereka hidup damai, tapi tanpa emosi yang lengkap.”

Arka teringat bagaimana warga Luminara selalu terlihat tenang… terlalu tenang.

“Lalu kenapa aku bisa ke sini?”

“Karena kau berbeda. Kau mempertanyakan hal yang orang lain abaikan. Kau mencari kebenaran, bukan kenyamanan.”

Arka terdiam.

Di hadapannya, sebuah cahaya kecil muncul, membentuk pilihan.

“Kau punya dua pilihan,” kata Lyra. “Kembali ke Luminara dan melupakan semua ini… atau membawa kembali bayangan ke dunia itu.”

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞𝐋𝐀𝐌𝐏𝐔𝟒𝐃 

“Apa risikonya?” tanya Arka.

“Dunia akan berubah. Akan ada ketakutan, kesedihan, bahkan konflik. Tapi juga akan ada kebahagiaan yang lebih nyata.”

Arka mengepalkan tangan. Pilihan ini bukan hanya tentang dirinya, tapi seluruh kota.

Ia mengingat wajah-wajah orang yang hidup tanpa rasa. Tanpa tawa yang tulus. Tanpa air mata yang berarti.

“Aku memilih… membawa kembali bayangan.”

Cahaya di sekitarnya bergetar hebat.

Gerbang Pelangi bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Saat Arka kembali ke Luminara, sesuatu telah berubah.

Langit tidak lagi sepenuhnya terang. Untuk pertama kalinya, bayangan muncul di bawah kaki orang-orang.

Warga mulai panik, namun perlahan mereka merasakan sesuatu yang baru. Emosi. Rasa yang selama ini hilang.

Arka berdiri di tengah kota, melihat dunia yang kini lebih hidup.

Lyra muncul sekali lagi di hadapannya.

“Kau telah mengubah takdir dunia ini,” katanya.

Arka tersenyum kecil. “Mungkin dunia memang butuh cahaya… tapi juga bayangan.”

Sejak saat itu, Luminara tidak lagi menjadi kota tanpa bayangan. Ia menjadi dunia yang seimbang—tempat di mana cahaya dan gelap berjalan berdampingan.

Dan Gerbang Pelangi kembali menghilang, menunggu seratus tahun berikutnya.

--------------

𝗧𝗔𝗠𝗔𝗧

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞LAMPU4D

𝗠𝗮𝗱𝗲 𝗯𝘆 : 𝗟𝗔𝗠𝗣𝗨𝟰𝗗


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama